Tugas Softkill tentang Aspek Hukum Dalam Ekonomi

Nama : Utrin Safitri

NPM   : 27212535

Kelas   : 2EB17

JUDUL ARTIKEL : Tarif Listrik Industri Naik Bertahap Mulai 1 Mei

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan peraturan ihwal kenaikan bertahap tarif listrik untuk tahun ini. Peraturan Menteri ESDM Nomor 9 Tahun 2014 itu menyebutkan tarif listrik akan naik setiap dua bulan, yaitu pada 1 Mei 2014, 1 Juli, 1 September, dan 1 November.

Dalam beleid yang ditandatangani Menteri ESDM Jero Wacik ini, ditetapkan kenaikan tarif listrik untuk dua golongan pelanggan. Golongan pertama adalah pelanggan I-3 atau industri dengan daya di atas 200.000 watt yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Yang kedua, pelanggan I-4 atau industri dengan daya 30.000 watt ke atas.

“Untuk golongan I-3 perusahaan terbuka naik 8,6 persen per dua bulan dan golongan I-4 naik 13,3 persen per dua bulan,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman, Rabu, 16 April 2014,

Tarif listrik I-3 yang saat ini berlaku Rp 803 per kilowatt-jam akan naik bertahap menjadi Rp 1.115 per kilowatt-jam pada 1 November 2014 untuk perusahaan terbuka. Sedangkan tarif listrik untuk industri besar yang saat ini Rp 723 per kilowatt-jam akan naik bertahap menjadi Rp 1.191 per kilowatt-jam.

Pemerintah juga menetapkan tarif listrik akan disesuaikan setiap bulan mulai pertengahan tahun ini. Setiap bulan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan menetapkan tarif yang disesuaikan dengan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), dan inflasi. Penyesuaian tarif listrik dilaksanakan setiap bulan bila terjadi perubahan, baik peningkatan maupun penurunan, salah satu atau beberapa faktor yang dapat mempengaruhi biaya pokok penyediaan tenaga listrik. 

Tarif ini ini berlaku untuk rumah tangga besar dengan daya 6.600 watt, keperluan bisnis menengah dengan daya 6.600-200.000 Watt, keperluan bisnis besar dengan daya 200.000 watt ke atas, dan kantor pemerintah pada tegangan rendah dengan daya 6.600-200.000 Watt.

Perubahan tarif ini diperkirakan bisa mengurangi subsidi listrik sebesar Rp 10,96 triliun. Kenaikan tarif listrik untuk pelanggan I-3 diperkirakan bisa menghemat subsidi Rp 1,39 triliun, sementara kenaikan untuk golongan I-4 akan membuat negara mengirit Rp 7,57 triliun. Adapun penyesuaian tarif bisa menghemat Rp 2 triliun. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014, pemerintah mengalokasikan subsidi listrik sebesar Rp 71,4 triliun.

BERNADETTE CHRISTINA MUNTHE

http://www.tempo.co/read/news/2014/04/16/090571199/Tarif-Listrik-Industri-Naik-Bertahap-Mulai-1-Mei. kamis, 19 Juni 2014 pukul 22:45.

http://dhanikotak.wordpress.com/category/teknik-tenaga-listrik/. Jumat, 20 Juni 2014 pukul 10:15.

TANGGAPAN

Kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL), masih menjadi perbincangan yang cukup hangat di berbagai komponen masyarakat. Banyak bermunculan pro dan kontra mengenai masalah ini. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa listrik memiliki peranan vital dalam segala aktivitas masyarakat hingga saat ini. Kali ini saya ingin mengaji kaitan dari kebijakan tersebut dengan fenomena masyarakat yang ada serta beberapa solusi/tindakan yang dapat kita ambil untuk mendukung kebijakan tersebut untuk kesjahteraan masyarakat.

keputusan kementrian ESDM No.32/HUMAS KESDM/2010, pemerintah ingin mengendalikan dana subsidi listrik agar tepat sasaran bagi masyarakat. Dana yang dianggarkan mencapai Rp. 55,1 Triliun rupiah. Selama ini, besaran subsidi disamaratakan kepada semua pengguna. Hal ini dirasa terlalu memberatkan bagi kalangan rakyat kecil. Untuk mengindari hal tersebut dan meningkatkan daya saing industri, maka dibuatlah kebijakan berupa kenaikan TDL yang baru-baru ini kita dengar.

Sejak kebijakan ini mulai dirancang, mulai banyak pihak-pihak dari berbagai macam kalangan yang menolak, karena dirasa terlalu memberatkan pengguna listrik (bagi pelanggan yang mengalami kenaikan listrik). Yang sangat disayangkan, banyak LSM yang bertindak cukup apatis dalam mengkritisi kebijakan kenaikan TDL ini tanpa mencoba untuk melakukan pengkajian terstrutur mengenai kebijakan ini. Saya mencoba mengkaji lebih dalam dengan memodelkan pola “konflik” yang terjadi di negara kita berkaitan dengan kenaikan tarif TDL dengan digram alir di bawah ini.

 

Biaya pembangkitan listrik yang tinggi di Indonesia diakibatkan sebagian besar bahan bakar pembangkit listrik kita menggunakan BBM dan batu bara. Perlu adanya alternatif sumber pembangkit listrik di Indonesia untuk mengurangi biaya produksi tersebut. Salah satu potensi alam Indonesia adalah panas bumi. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang luar biasa yang memiliki prospek yang bagus untuk dijadikan pembangkit listrik. Namun kendala yang serupa juga ditemui pada pemanfaatan sumber terbaharui ini, belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena biaya investasinya cukup tinggi.

Biaya produksi dan investasi yang tinggi ini dapat berakibat secara langsung ataupun tidak terhadap kenaikan harga penjualan pada pelanggan dan pemerintah harus memberikan subsidi yang lebih. Bukan tidak mungkin suatu saat harga akan kian melambung mengingat bahan baku yang dipakai.

SOLUSI

Melihat problem yang ada di masyarakat sekarang ini, perlu adanya sebuah wawasan tentang kelistrikan bagi masyarakat. Mengapa demikian? Karena tingkat kepedulian masyarakat hanya sebatas “pemakai” listrik. Padahal, dibutuhkan pula kesadaran masyarakat dalam penegelolaan dari listrik itu sendiri. Bagaimana caranya? Banyak metode yang dapat digalakkan dan salah satunya hal konkrit yang dapat dilakukan dalam pencerdasan masyarakat tentang kelistrikan adalah dengan cara penghematan listrik.

Penghematan listrik dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Berikut ini beberapa cara yang cukup mudah diaplikasikan di rumah tangga :

      Matikan lampu dan peralatan elektronik (televisi, komputer, stereo, mesin cuci, oven, hingga video game) bila tidak diperlukan.

      Jangan meninggalkan alat elektronik dalam keadaan stand-by. Mereka masih mengonsumsi listrik!

      Ganti lampu yang Anda gunakan dengan lampu hemat energi. Lampu jenis ini menggunakan energi 80% lebih sedikit dan berumur sampai 10 kali lipat lebih panjang dibandingkan lampu biasa. Harganya memang lebih mahal, tetapi Anda dapat menghemat biaya listrik.

      Pada kondisi stand by, alat elektronik masih menggunakan listrik sebesar 5 watt.

      Membiarkan TV, computer, tape, DVD player pada kondisi stand by selama 8 jam/hari berarti :

  • melakukan pemborosan listrik sebesar 160 watt/jam/hari
  • memboroskan uang sebesar Rp.35.000/tahun
  • mengemisikan 43 kg gas CO2/tahun

 

Bahwa penghematan sebetulnya adalah suatu metode pembangkitan listrik dengan cost yang paling murah. Intinya, pola hidup konsumtif kitalah yang perlu mendapat perhatian serius. Kalau kita tetap hidup boros sedemikian rupa, bukan tidak mungkin akan ada kenaikan TDL selanjutnya. Lalu, apakah kita hanya akan menentang tanpa berkaca apakah kita sudah cukup bijak dalam menggunakan listrik ?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s